Selama ini tes DNA selalu dikaitkan dengan identifikasi asal usul genetik. Padahal tes DNA itu mampu dimanfaatkan untuk mendeteksi penyakit yang erat kaitannya dengan virus yang biasanya ditularkan melalui darah, seperti virus hepatitis dan HIV AIDS.
Bahkan, menurut penelitian terbaru di Kanada, seperti yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine, tes DNA bisa mendeteksi dini virus Human Papillomavirus (HPV) yang merupakan penyebab kanker leher rahim (serviks).
Secara klinis, tes DNA malah terbukti lebih akurat dibandingkan dengan teknologi pemeriksaan sebelumnya, papsmear. Studi itu sendiri dilakukan pada 10 ribu wanita Kanada berusia 30-69 tahun. Ke semua wanita tersebut diharuskan menjalani papsmear dan tes DNA. Hasinya, tes DNA lebih akurat 94,6% ketimbang papsmear yang hanya mencapai tingkat keakuratan 55,4%.
Sayangnya, penggunaan tes DNA untuk mendeteksi kanker serviks belum begitu dikenal. Sebab, hingga saat ini yang dikenal untuk mendeteksi adalah papsmear. Meski telah lama digunakan, papsmear banyak dikeluhkan oleh wanita. Banyak dari mereka merasa tidak nyaman ketika menjalani papsmear.
Seperti papsmear, tes DNA untuk mendeteksi kanker serviks dilakukan dengan cara yang hampir sama. Perbedaannya, tes DNA tidak mencari sel-sel yang memicu kanker serviks. Tes ini justru mencari ada atau tidaknya virus HPV sebagai virus pemicu kanker serviks.
“Ketika kamu melakukan pemeriksaan, yang kamu inginkan adalah hasil yang benar-benar tepat dan sensitif. Kamu tidak ingin ada sedikitpun kejanggalan dengan pemeriksaan tersebut,” kata Dr. Marie-Helene Mayrand, dari University of Montreal. “Masalah papsmear, rata-rata pemeriksaan yang berhasil hanya mencapai 55%. Berbeda dengan pemeriksaan HPV dengan tes DNA yang mencapai 95%,” katanya lagi.